Saat pertama kali mendengar desas-desus tentang film Fitna yang dibesut oleh Geert Wilders, saya sempat penasaran. Namun, setelah “menikmati” filmnya, rasa penasaran langsung berubah menjadi kecewa. Film yang awalnya cukup booming ini, ternyata, tidak segempar seperti yang digunjingkan oleh banyak kalangan.
Menurut saya, Fitna ini, sebenarnya, hanya sekedar propaganda murahan yang berujung pada sebuah kegelisahan. Kegelisahan yang dimaksud, adalah kekhawatiran berlebihan dari sekelompok orang yang melihat laju pemeluk Islam di Eropa, dan Belanda pada khususnya. Mereka khawatir, migrasi penduduk Eropa kepada Islam, yang dinilai terlampau cepat, justru akan mempersempit gerak mereka dalam “berekspresi”.
Slogan Stop Islamisation ! jelas-jelas diekspose dalam film Fitna ini. Didalamnya banyak diatur pertarungan antara aliansi berslogan “Defend our Freedom” versus “Freedom go to Hell” ! Tentu, pada akhirnya, pesan yang disampaikan, terkesan memaksa dan cenderung melupakan nilai artistik yang seharusnya hadir dalam sebuah film.
Berpikir dengan Quran
Apalagi, akan terkesan “benar”, ketika sang sutradara, banyak melansir ayat-ayat Quran, hanya sekedar untuk membenarkan opini-opininya. Secara obyektif, menurut saya, film Fitna ini, sesuai dengan namanya, sebenarnya hanyalah fitnah belaka, dan terkesan menggunakan ketergesa-gesaan sebagai pijakan.
Provokasi menjadi kian berhasil, ketika film Fitna menggunakan surah 47:4 dalam Quran, yang Insya Allah, berujar sebagai berikut : “Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti. Demikianlah, apabila Allah menghendaki niscaya Allah akan membinasakan mereka tetapi Allah hendak menguji sebahagian kamu dengan sebahagian yang lain. Dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka.”
Biasanya, orang awam, akan langsung berpikir negatif, dan memang, seorang muslim, bisa jadi akan tergoyah keimanannya. Jadi, jelas sudah, bahwa film Fitna ini, hanya sekedar untuk menggalang perlawanan terhadap percepatan Islam dalam percaturan dunia.
Menganalisis Quran, menurut saya, tidak bisa sembarangan, sepotong-potong, asal-asalan (asal comot), atau tanpa mengedepankan sisi historis; di mana, apa dan bagaimana sebuah surah itu dikeluarkan. Ayat-ayat yang termaktub dalam Quran, adalah sebuah kesatuan, laksana elemen yang membangun pilar-pilar spiritual, dan menyokong sebuah kepercayaan religius (gedung), yang dalam hal ini bernama Islam.
Sehingga tidak etis, jika seorang sutradara yang memiliki tanggung jawab moral dalam berkesenian, justru harus tergelincir dalam pergulatan film Fitna ini. Bahkan, jika ia sampai harus rela untuk merekayasa opini melalui seorang bocah berumur 3,5 tahun. Sungguh ini sangat disayangkan !
Jangankan menganalisisnya menurut metode komparasi ayat, berdasarkan analisis historis, penjelasan di surah yang sama pun, ternyata cukup untuk menunjukkan dangkalnya analisis pustaka yang digunakan oleh Geert Wilders.
Masih di dalam surah 47, di lain ayat disebutkan, bahwa saat itu, umat muslim berada pada situasi tertindas, teraniaya, dan terancam, sehingga Tuhan menilai hal ini sudah keterlaluan, dan mempersilahkan umat muslim untuk menghancurkan musuh-musuhnya, serupa seperti yang telah mereka lakukan.
“Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tiada mempunyai pelindung.”
Jadi tidak mungkin, umat muslim butuh pelindung, jika ia tidak dalam posisi tertindas. Tidak hanya itu, surah 47:4 pun, sebenarnya, hanya diperuntukkan dalam situasi perang, dan bukan dalam situasi damai.
Bukti lain tentang ketertindasan umat muslim di surah 47, juga diperlihatkan dalam ayat lain yang berbunyi, “Dan betapa banyaknya negeri-negeri yang (penduduknya) lebih kuat dari (penduduk) negerimu (Muhammad) yang telah mengusirmu itu. Kami telah membinasakan mereka; maka tidak ada seorang penolong pun bagi mereka.”
Jadi, jelas sudah, kala itu, umat muslim, justru telah diperlakukan tidak adil, hingga diusir dari negerinya sendiri ¡
Surah 8:39
Propaganda lain yang dipergunakan dalam film Fitna, adalah surah 8:39 dalam Quran, yang berbunyi,” Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.”
Dalam ayat tersebut, dijelaskan bahwa, perintah perang itu turun, sebagai akibat dari pengingkaran perintah Tuhan, oleh sekelompok umat manusia, agar tidak ada perselisihan, ataupun fitnah !
Dan lagi, jika manusia berhenti, artinya tidak coba "memerangi" perintah Tuhan, maka umat muslim diperintahkan untuk tidak memusuhi, dan dari Tuhan akan ada ampunan, seperti halnya ayat lain dalam surah 8,
”Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu: "Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni mereka tentang dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (Allah terhadap) orang-orang dahulu".
“Dan jika mereka berpaling, maka ketahuilah bahwasanya Allah Pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.”
Sekali lagi, masih dari surah 8, dijelaskan pula bahwa umat muslim saat itu, ternyata masih berada dalam pihak yang tertindas, dan karenanya dianggap butuh pelindung dan pertolongan.
Surah 8:60
Surah lain yang digunakan Fitna, adalah surah 8:60, yang berbunyi “ Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).”
Ayat dalam surah 8 Quran di atas, tentu saja, bukan memaknai muslimin sebagai kaum yang gemar berperang, namun sekedar show of force bagi musuh yang ditengarai akan menganggap remeh perjanjian damai yang ditawarkan Islam.
Ayat lain, masih dalam surah yang sama menyebut,”Dan jika kamu khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat.”
Jadi jelas sudah, bagaimana posisi umat muslim sehubungan dengan ayat tersebut. Penjelasan lain, masih dalam surah yang sama, sbb :
“...(Yaitu) orang-orang yang kamu telah mengambil perjanjian dari mereka, sesudah itu mereka mengkhianati janjinya pada setiap kalinya, dan mereka tidak takut (akibat-akibatnya)...”
“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
“Dan jika mereka bermaksud hendak menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu). Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mu'min,”
Ayat di atas, kian memperkuat pemahaman, bahwa kaum muslimin hanyalah mengambil posisi strategis tertentu, atas ancaman pengkhianatan dan penipuan. Dan lagi, ditekankan pula, masih dalam surah yang sama, bahwa sesunguhnya Islam lebih condong pada perdamaian.
Surah 4:56
Menyinggung surah 4:56 Quran, yang digunakan film Fitna,” Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan adzab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”;
bukan berarti Islam hadir sebagai figur-figur yang kejam.
Namun, lebih pada "balasan" yang akan diberikan oleh Tuhan kepada mereka yang mendustakan Tuhan, dan akan diberikan kelak di akherat. Hal ini tentu bukan tanpa alasan, kaum yang diancam, ternyata tidak hanya ingkar kepada Tuhan, tapi juga mengada-adakan Tuhan baru sebagai saingan, yang tentunya akan merangsang kemurkaan Tuhan. Padahal, mereka telah mendapat teguran. Tentu ini adalah sesuatu yg wajar !
Masih dalam surah yang sama, dijelaskan,” Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al Kitab? Mereka percaya kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.”
Tidak hanya itu, mereka terbukti, gemar menyepelekan amanah, dan terkesan bermain-main, seperti halnya ayat lain dalam surah 4,” Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil....”.
“Perhatikanlah, betapakah mereka mengada-adakan dusta terhadap Allah? Dan cukuplah perbuatan itu menjadi dosa yang nyata (bagi mereka).”
Surah 4:89
Surah 4:89 yang digunakan film Fitna, sebenarnya mengutarakan hal berikut,
”Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong (mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Maka jika mereka berpaling, tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya, dan janganlah kamu ambil seorang pun di antara mereka pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong, kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu telah ada perjanjian (damai) atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya. Kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu pastilah mereka memerangimu. Tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka.”
Ayat-ayat lain dalam surah 4, memberi penjelasan sebagai berikut,
”Kelak kamu akan dapati (golongan-golongan) yang lain, yang bermaksud supaya mereka aman daripada kamu dan aman (pula) dari kaumnya. Setiap mereka diajak kembali kepada fitnah (syirik), mereka pun terjun ke dalamnya. Karena itu jika mereka tidak membiarkan kamu dan (tidak) mau mengemukakan perdamaian kepadamu, serta (tidak) menahan tangan mereka (dari memerangimu), maka tawanlah mereka dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemui mereka, dan merekalah orang-orang yang Kami berikan kepadamu alasan yang nyata (untuk menawan dan membunuh) mereka.”
“Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mukmin. Barang siapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai cara tobat kepada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
Selain dijelaskan lagi bahwa posisi muslimin kala itu, sebagai pihak yang butuh pertolongan dan pelindung, surah ini tidak begitu saja memerintahkan muslimin untuk membunuh dengan membabi buta, tapi tentu dengan beberapa latar belakang.
Seorang yang butuh pelindung, tentu bukanlah umat yang kuat dan beringas ! Artinya, jika saat itu, berperan sebagai kelompok yang kuat dan berkuasa, tentu tidak akan meminta perlindungan dan pertolongan, karena memang, tidak berada pada posisi tertekan dan atau terdesak.
Disebutkan dalam surah 4, bahwa Tuhan justru tidak akan membiarkan orang muslim untuk menawan dan membunuh, apabila orang kafir yang saat itu tampil sebagai penguasa, membiarkan orang muslim untuk berlalu. Artinya, jika orang kafir tidak memerangi muslimin terlebih dahulu, atau ketika masih menghormati perjanjian damai, maka Tuhan dengan tegas melarang muslimin untuk membunuhi (berperang) dgn orang kafir.
Secara historis-logis, sekali lagi, perintah yang diturunkan, menyangkut suatu peristiwa tertentu, dan kejadian tertentu, yang dianggap Tuhan membawa dampak bagi kelangsungan hidup manusia.